Sejarah Kerajaan Mandar dan Persekutuan Pitu Babana Binanga
MAJENE, LELEMUKU.COM – Sebelum datangnya Belanda, suku Mandar di Sulawesi Barat terdiri dari berbagai kerajaan yang kemudian bersatu dalam konfederasi. Pada abad ke-16, Raja Tomepayung dari Kerajaan Balanipa memprakarsai penyatuan kerajaan-kerajaan tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan dan ketertiban bersama.
Kerajaan Balanipa, Binuang, Sendana, Tapalang, Banggae, Pamboang, dan Mamuju bersatu membentuk persekutuan Pitu Babana Binanga atau tujuh kerajaan pesisir melalui Assitalliang Tammajarra. Balanipa berstatus sebagai ayah atau ketua, Sendana sebagai ibu atau wakil ketua, dan kerajaan lain sebagai anak atau anggota.
Di pedalaman, kerajaan-kerajaan juga membentuk persekutuan Pitu Ulunna Salu yang terdiri dari Tabulahan, Rantebulahan, Aralle, Mambi, Matangnga, Tabang, dan Bambang. Kedua persekutuan tersebut kemudian bersatu melalui perjanjian allamungan batu di Luyo Balanipa, menjadikan Mandar sebagai kerajaan maritim yang kuat dan disegani.
Pada masa kolonial, Belanda mendirikan Afdeling Mandar pada tahun 1909 dengan ibu kota di Majene. Afdeling ini mencakup empat onderafdeling, yaitu Mamuju, Polewali, Mamasa, dan Majene, yang menjadi cikal bakal Provinsi Sulawesi Barat. Kejayaan Kerajaan Mandar menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sulawesi Barat hingga kini. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.